Minggu, 23 Juni 2013

Peran & Fungsi Masjid di Masa Rasulullah SAW
  1. "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut selain kepada Allah. Maka merekalah ornag-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk"(QS. At-Taubah : 18)
  2. "Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah bangunkan untuknya rumah disyurga" (QS. HR. Muslim)
  3. "Tidaklah Aku ciptakan jin dan maunia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyaat : 56)
  4. "Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembalki segala urusan" (QS. Al-Hajj : 41)
  5. Barangsiapa yang masuk masjidku ini untuk mempelajari atau mengajarkan kebaikan, maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dan barang siapa yang masuk untuk selain itu, maka ia seperti orang yang memandang kepada sesuatu yang tidak ada faidah baginya" (HR. Ahmad)
  6. "Tidaklah satu kaum di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, yang mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka kecuali ketenangan turun atas mereka, rahmat Allah meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebutkan mareka di sisi orang yang di sisi-Nya" (HR. Muslim)
  7. Agama islam itu yang dibawa oleh Rasulullah SAW mengajarkan kepada umat manusia untuk hidup damai dan sejahtera. Rasulullah SAW pada dasarnya sangat mendambakan perbadaiman dan tidak menyukai peperangan. Namun mengingat adanya bahaya agrensi dan ancaman serangan yang menggangu kedaulatan Dulah Islami & Eksistensi D'wah Islam, maka Rasulullah SAW sebagai Kepala Pemerintah membentuk pasukan tentara, mengatur siasat dan mengirim ekspedisi ke luar kota baik yang dipimpin langsung oleh Beliau atau oleh Sahabat. Ekspedisi yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW disebut "Ghazwah", jumlahnya ada 27 kali. Yang dipimpin sahabat disebut "Sariyyah", jumlahnya 47 kali.

Fungsi dan Peranan Masjid di Era Modern

Salah satu unsur penting dalam struktur masyarakat Islam adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah sama halnya dengan gereja, pura, wihara dan yang lain sebagainya, masjid digunakan umat Islam untuk berbagai keperluan misalnya dibidang pendidikan, kegiatan sosial, ekonomi, pemerintah dan lain-lain.

Pada masa awal perkembangan Islam, yaitu pada zaman Rasulullah, masjid  merupakan pusat pemerintah, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan ekonomi. Sebagai Kepala Pemerintah dan Kepala Negara Muhammad SAW tidak mempunyai istana seperti halnya para raja pada waktu itu, beliau menjalankan roda pem erintahan dan mengatur umay Islam di Masjid, permasalahan-permasalahan umat beliau selesaikan bersama-sama dengan para sahabat di Masjid bahkan hingga mengatur strategi peperangan.


Tradisi ini kemudian tetap dilestarikan oleh para khulafaur Rasyidin dan khalifah-khalifah setelahnya, namun pada perkembanganya di bidang pemerintahan masjid hanya di jadikan simbol pemerintahan Islam, walaupun terletak biasanya di pusat pemerintahan berdampingan dengan pusat kekuasaan. Kemegahan sebuah masjid menjadi kebanggaan bagi penguasa, peninggalan-peninggalan tersebut masih kita dapati di berbagai tempat bekas kejayaan pemerintahan Islam, baik di Timur Tengah maupun di Eropa.

Dalam bidang pendidikan, Rasulullah menggunakan masjid untuk mengajarkan para sahabat agama Islam, membina mental dan akhlak mereka, seringkali dilakukan setelah sholat berjama’ah, dan juga dilakukan selain waktu tersebut. Masjid pada waktu itu mempunyai fungsi sebagai “sekolah” seperti saat ini, gurunya adalah Rasulullah dan murid-muridnya adalah para sahabat yang haus ilmu dan ingin mempelajari Islam lebih mendalam.


Tradisi ini juga kemudian di ikuti oleh para sahabat dan penguasa Islam selanjutnya, bahkan dalam perkembangan keilmuan Islam, proses “ta’lim” lebih sering di lakukan di masjid, tradisi ini dikenal dengan nama “halaqah”, banyak ulama-ulama yang lahir dari tradisi halaqah ini.
 

Tradisi ini diadopsi di Indonesia dengan model “Pesantren”, menurut sejarah berdirinya pesantren-pesantren di Indonesia dimulai dengan adanya kyai dan masjid. Pada perkembangan selanjutnya ketika proses ta’lim di adakan di sekolah/madrasah, tradisi halaqah masih tetap dilestarikan di berbagai tempat sebagai “madrasah non formal”. 


Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa tradisi ini merupakan cikal bakal berdirinya universitas-universitas Islam besar di dunia. Salah satu contohnya adalah al-Azhar di Mesir.

Di bidang ekonomi, masjid pada awal perkembangan Islam di gunakan sebagai “Batiul Mal” yang mendistribusikan harta zakat, sedekah, dan rampasan perang kepada fakir miskin dan kepentingan Islam. Golongan lemah pada waktu itu sangat terbantu dengan adanya baitul mal.

Saat ini banyak diantara umat Islam yang melihat masjid hanya sebagai tempat ibadah atau sholat. Itupun kalau kita lihat hanya sedikit orang yang melakukan sholat berjama’ah di masjid setiap waktu, kecuali sholat Jum’at. 


Maka tidak heran masjid hanya dikunjungi pada waktu-waktu sholat, bahkan yang kadang-kadang digunakan sebagai tempat istirahat melepas lelah setelah bekerja, sehingga kita lihat masjid-masjid yang sepi tidak ada aktifitas apa-apa selain sholat dan peringatan-peringatan keagamaan tertentu. Tentunya kita tidak ingin masjid-masjid kita mengalami nasib yang sama seperti di barat.

Hasil analisa menyimpulkan bahwa kecenderungan umat meninggalkan masjid karena mereka merasa masjid tidak memberikan manfaat langsung dalam kehidupan mereka yang semakin komplek. Untuk itu perlu kembali kita mereposisikan masjid sebagai sentral kegiatan umat yang mampu memberikan kontribusi langsung kepada umat.

Sebagai harta wakaf masjid sesungguhnya mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sehingga manfaat yang di hasilkan lebih banyak dan luas. Konsep wakaf dalam Islam memberikan peluang adanya usaha-usaha untuk pengembangan. 


Beberapa usaha yang bisa dilakukan nazir sejalan dengan kebutuhan umat saat ini adalah di bidang pendidikan dan ekonomi. Nazir yang dibantu oleh ta’mir masjid bisa mendirikan lembaga pendidikan Islam dengan dana dari mendirikan BAZIS (Badan Amil Zakat Infak dan Shadaqah), bisa saja kemudian dikelola dibawah naungan yayasan seperti lembaga pendidikan al-Azhar Jakarta, salah satu lembaga pendidikan Islam terbaik di Jakarta. 


Agar tidak menghilangkan peranan masjid maka sekolah, kantor dan yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan hendaknya diadakan di lingkungan masjid. Dari pengembangan ini diharapkan masjid bisa memberikan pendidikan murah dan berkualitas kepada umat, bahkan bisa memberikan beasiswa kepada masyarakat yang kurang mampu, seperti Universitas Al-Azhar.

Pengembangan harta wakaf masjid bisa lebih diluaskan kedalam bidang ekonomi, tujuan dan sasarannya adalah kemandirian dan menolong golongan kurang mampu. Agar lembaga pendidikan yang dikelola masjid dapat berjalan dengan baik maka hendaknya ditopang dengan dana yang cukup, untuk itu perlu dikembangkan usaha-usaha ekonomi dengan mendirikan unit-unit ekonomi, seperti toko atau mini market, rumah makan, toko buku, photocopy atau usaha lainnya.


Usaha-usaha ekonomi tersebut mempunyai peranan dan fungsi ganda: sebagai sumber dana, menyediakan lapangan pekerjaan, serta menyediakan kebutuhan masyarakat. Dari sini diharapkan masjid menjadi sentral kegiatan umat, dan masyarakatpun merasakan manfaatnya secara langsung.

Pentingnya masjid bagi umat Islam bagaikan jantung bagi manusia, karena dari masjid Rasulullah membangun peradaban Islam dan karakter umat Islam yang sebagai khalifah di muka bumi.

Sebagai tempat ibadah Masjid merupakan media seorang hamba berkomunikasi dengan penciptanya dalam bentuk sholat. Walaupun Islam tidak membatasi bahwa sholat hanya di lakukan di Masjid (bumi merupakan masjid Allah di mana saja seorang muslim dapat melaksanakan sholat apabila telah datang waktunya).  Nabi selalu menganjurkan umatnya agar senantiasa melaksanakan sholat berjamaah di masjid, terdapat banyak riwayat hadis yang menerangkan pentingnya sholat berjamaah.


Namun bagi kehidupan muslim Masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah seperti halnya gereja, pura dan lainnya, akan masjid merupakan sentral kehidupan umat Islam. Sebagai sentral kegiatan tentunya masjid mempunyai multifungsi: fungsi keagamaan, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi, fungsi sosial fungsi politik dan lain sebagainya. Kalau kita melihat kembali ke zaman Rasulullah maka kita dapatkan bahwa Rasullah mengadakan berbagai kegiatan untuk kepentingan umat di Masjid.


Di bidang pendidikan, beliau senantiasa memberikan nasehat dan pelajaran di masjid, baik dilakukan setelah sholat maupun di luar waktu itu, waktu tersebut Rasulullah gunakan untuk membina mental para sahabat dan mengajarkan Islam kepada mereka.


Dibidang politik Rasulullah sering sekali bermusyawarah kepada para sahabat untuk membicarakan persoalan umat di masjid, termasuk juga mengatur strategi peperangan melawan musuh dan banyak lagi kegiatan yang dilakukan Rasulullah yang dilakukan di masjid.


Begitu pentingnya fungsi masjid bagi umat Islam hingga Rasulullah tatkala tiba di Quba dalam perjalanannya ke Madinah yang pertama di bangun adalah masjid (masjid Quba), dan ketika sampai di Madinah Rasulullah juga mendirikan masjid bersama para sahabat di salah satu tempat sahabat anshor (abu Ayub al-Anshori) sebelum membangun infrastruktur yang lainnya.

Fungsi Peran dan Fungsi Masjid Bagi Umat Islam : [Al-Arham Edisi 5 (A)] 



Masjid  adalah  simbol  keislaman.  Ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam, karena masjid merupakan bentuk ketundukan umat kepada Allah swt. Masjid bukan sekadar tem pat sujud dan sarana penyucian atau bertayamum (wudhu dengan debu suci). Masjid adalah tempat  Muslim bertolak,  sekaligus  pelabuhan tempatnya  bersauh  dalam  ketaatan  kepada Allah swt. 

Masjid sebagai institusi kaum muslimin, merupakan  indikator  bagi  muslim  paripurna (Insan Kamil). Dengan predikat ini, umat muslim harus bisa memaksimalkan keberadaan masjid sebagai  pusat  aktivitas  yang  menawarkan kegiatan-kegiatan alternatif dalam berdakwah.
Contoh yang telah ada adalah kegiatan berdakwah melalui media televisi komunitas atau radio komunitas, seperti TV komunitas Masjid Jogokarian  di  Yogyakarta  (MJTV)  dan  PAL TV di Masjid Sadzudarain di Palmerah Jakarta.

Amal Ibadah Shalat dan Fungsi Masjid

Shalat  adalah  kegiatan  utama  yang dilaksanakan  di  masjid.  Hadis  Nabi  riwayat Hudzaifah:

“Rasulullah saw. bersabda: Saya telah diciptakan berbeda dengan umat sebelumnya dalam tiga  perkara: shaf-shaf kami telah dijadikan seperti shaf para malaikat, dan seluruh dunia merupakan masjid untuk kami, dan debunya telah dijadikan penyuci jika air tidak tersedia...”. (HR. Muslim)

Dalam hadis tersebut dapat ditemukan bahwa shalat yang memiliki shaf, mengandung makna kedisiplinan, keteraturan dan kepatuhan terhadap waktu. Itu artinya masjid tidak hanya bisa dipakai untuk shalat saja. Hal-hal lain yang terkait dengan kepatuhan terhadap Allah swt. bisa  dilakukan  di  sana.  Seperti  pada  masa Rasulullah masjid memiliki fungsi lain seperti pusat pemerintahan, proses legislasi, interaksi masyarakat, dan fungsi-fungsi duniawi lainnya.

Beberapa  barang  datang  kepada Rasulullah dari Bahrain. Rasulullah memerintahkan kepada  para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah saw. Ia meninggalkannya  untuk  shalat  tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk di depan barang- barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ‘Wahai 
Rasulullah berikan padaku  sebagian barang-barang itu, karena saya  perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.’ Rasulullah lalu meminta ia untuk mengambilnya sendiri...”. (HR. Bukhari diriwayatkan Annas ra.)

Selain  itu  masjid  juga  harus  mampu memberikan  ketenangan  dan  ketenteraman pada pengunjung dan lingkungannya. Apabila masjid dituntut berfungsi membina umat, tentu sarana yang dimilikinya harus tepat, menyenangkan dan menarik umat, baik dewasa, anak-anak, maupun remaja, laki-laki maupun perempuan. 



Dalam  Muktamar  Risalatul  Masjid  di Makkah tahun 1975, telah didiskusikan dan  disepakati,  bahwa  masjid  baru  dapat dikatakan berperan secara baik bila memiliki ruangan  dan  peralatan  memadai,  bersih  dan sehat  untuk  shalat;  Memiliki  ruang  khusus perempuan baik untuk shalat maupun Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), yang memungkinkan mereka keluar masuk  tanpa bercampur  dengan  jamaah  pria; Ada  ruang pertemuan dan perpustakaan; Poliklinik  dan ruang memandikan dan mengkafani jenazah; Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.

Hal-hal tersebut tentunya harus diwarnai oleh  kesederhanaan  fisik  bangunan,  namun tetap   menunjang peranan masjid yang ideal.

Terkait dengan hal itu, masjid juga memiliki mandat membangun pandangan dunia terhadap  uswah hasanah  (teladan)  yang  diberikan Rasulullah saw. yang harus dilaksanakan para pengurusnya dalam memasyarakatkan masjid.

Memang,  masjid  sangat  berpotensi mewarnai perkembangan dunia. Pemahaman luas dari umat mengenai misi masjid yang tidak sekedar  tempat  shalat  semata,  melainkan tempat ‘rahmat bagi alam semesta’, akan semakin memperkaya fungsi masjid. Dari sini semoga umat dapat menghapus pandangan sempit tentang  peran  dan  fungsi masjid.  Tentunya dengan  tanpa  membatasi  siapapun,  laki-laki dan  perempuan  berkunjung  ke  rumah  Allah agar dapat belajar dan beribadah hanya karena Allah swt.  (Uib Sholahuddin Al Ayubi, Banten)

Mengembalikan Fungsi Masjid

“Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.At- Taubah:18)

Secara etimologis masjid berarti tempat sujud. Sedangkan secara terminologis, masjid adalah tempat melakukan kegiatan ibadah dalam makna luas. Dengan demikian, masjid merupakan bangunan yang sengaja didirikan umat muslim untuk melaksanakan shalat berjamaah dan berbagai keperluan lain yang terkait dengan kemaslahatan umat muslim. Akan tetapi, bila mencermati perkembangan dewasa ini, fungsinya yang kedua ini cenderung mulai berkurang, hal ini lantaran masjid sering hanya dipahami semata-mata untuk sujud sebagaimana dilakukan dalam shalat.

Semestinya masjid memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan dan membangun kapabilitas intelektual umat, kegiatan sosial kemasyarakatan, meningkatkan perekonomian umat, dan menjadi ruang diskusi untuk mencari solusi permasalahan umat terkini

Dan yang paling ironis kebanyakan dari pengurus masjid saat ini lebih memperhatikan kemegahan bangunannya. Kondisi inilah yang diprediksi menjadi salah satu faktor penyebab terhambatnya kemajuan umat Islam dan rapuhnya kesatuan umat Islam. Selain itu, barangkali pula, yang menjadi salah satu faktor penyebab mundurnya peradaban dan umat Islam.

Padahal, masjid merupakan tempat yang cukup strategis untuk menjadi titik pijak penggerak kemajuan umat Islam dan titik temu dan perbedaan simbol-simbol material dan strata sosial yang sering melekat pada kehidupan masyarakat kita. Pendeknya, apa yang kita temui sekarang ini, peran masjid telah direduksi sedemikian rupa sehingga masjid cenderung berperan sebagai tempat pembinaan ibadah ritual semata.

Pada masa Rasulullah, masjid selain digunakan sebagai tempat ibadah, juga untuk pengaturan tata negara, mengatur siasat perang, pengembangan pendidikan,tempat pengobatan para korban perang, tempat mendamaikan dan menyelesaikan sengketa, tempat menerima utusan delegasi/tamu, sebagai pusat penerangan, dan pembelaan agama.  

Fungsi masjid khususnya pada zaman Rasulullah dan sesudahnya disebabkan beberapa faktor.
  1. Tingginya tingkat kesadaran masyarakat/kaum Muslimin berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan.
  2. Para pengurus/Pembina masjid mampu menghubungkan aktivitas masjid dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi sosialnya.
  3. Tercapainya kesamaan visi, misi dan hati antara pengurus masjid, ustadz/khatib dan jamaahnya, untuk membangun semua bidang kehidupan. Semua itu merupakan kunci sukses untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat.
Menjadikan Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat



Salah satu tugas mulia yang mesti kita lakukan sekarang adalah memakmurkan masjid dan menjadikannya sebagai pusat pembinaan umat. Memakmurkan masjid wajib dilakukan oleh setiap pengurus masjid di manapun berada dan bagaimanapun kondisi masjid yang diurusnya. Dan merupakan kewajiban pula bagi setiap muslim yang menghuni dalam jangkauan wilayah masjid. Mereka (para jama’ah) yang berulang kali datang memasuki masjid untuk mencari ridha Allah harus diakui sebagai orang yang beriman. Sebagaimana disabdakanan Nabi Muhammad saw :
Artinya: “Apabila engkau melihat orang yang berulang kali ke masjid, maka saksikanlah sesungguhnya ia adalah orang yang beriman.”(HR. Daruquthny)

Demikian pula orang yang hatinya terpaut ke masjid ia adalah orang yang akan mendapatkan perlindungan Allah di suatu saat mana tidak ada lagi pengayoman lagi selain dari Allah SWT. Sebagaimana sabdanya:
Artinya: “Seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid apabila ia keluar (dari masjid) sehingga ia rindu kembali memasukinya.”(HR. At Tirmizi dari Abu Hurairah).

Di antara peranan masjid sebagai pembinaan ummat adalah sebagai berikut : 

1. Sebagai Universitas Kehidupan.
Masjid adalah universitas kehidupan. Di dalamnya dipelajari semua cabang ilmu pengetahuan, sejak dari masalah keimanan, ibadah, syari’ah (sistem hidup Islam), akhlak, jihad (perang), politik, ekonomi, budaya, manajemen, media massa dan sebagainya. Begitulah cara Rasul saw. memanfaatkan Masjid sebagai universitas kehidupan. Tak ada satupun masalah hidup yang tidak dijelaskan Rasul Saw. di dalam Masjid Nabawi yang Beliau bangun bersama para Sahabatnya setelah Masjid Quba’. Sejarah membuktikan, Rsul saw. tidak punya lembaga pendidikan formal selain Masjid. Rasul saw, menjelaskan dan meyelesaikan semua persoalan umat di Masjid, termasuk konflik rumah tangga, metode pendidkan anak dan sebagainya.

2. Sebagai Wadah Penanaman, Pembinaan dan Peningkatan Keimanan.
Masjid adalah wadah paling utama dalam penanaman, pembinaan dan peningkatan keimanan, karena Allah tidak menjadikan tempat lain semulia Masjid. Bahkan Allah menegaskan Masjid itu adalah rumah-Nya di muka bumi:

“ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. , (QS. Al-Imran:96).

3. Sebagai Wadah Pengembangan dan Manajemen Diri.
Masjid juga berfungsi sebagai wadah pengembangan dan manajemen diri, karena di masjid dilakukan berbagai aktivitas ibadah dan dihadiri oleh kaum Muslim dari berbagai profesi, keahlian dan status sosial. Yang kaya, yang miskin, berpangkat dan sebagainya berkumpul di Masjid dalam satu komunitas bernaam “Jama’ah Msjid’ dengan satu tujuan, yakni ridha Allah Ta’ala. Semuanya diikat dan dilatih dengan ibadah, khususnya ibadah shalat fardhu yang sangat disiplin dan rapih. Sebab itu, kalaulah interaksi Jama’ah Masjid dikelola dengan baik, pasti akan memberikan banyak manfaat kepada jama’ahnya dalam pengembangan dan manjemen diri.

4. Sebagai Wadah Penyucian dan Pengobatan Jiwa.
Masjid adalah tempat yang paling ideal dan praktis utk menyucikan diri. Firman Allah:

“ Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah:108).

Di masjidlah kita belajar dan mempraktekkan khusyu’ dan ikhlas beribadah, tsiqah billah (percaya penuh pada Allah), husnuzh-zhan billah (berbaik sangka pada Allah), takut azab Allah, berharap rahmat Allah, kasih sayang sesama umat Islam dan tegas pada kuam kafir. Di masjid juga kita belajar dan mepraktekkan kebersihan diri, lahir dan batin, disiplin, teratur, tawadhu’ (rendah hati), besegera dalam kebaikan, membersihkan hati dari penyakit syirik, riya’, sombong, kikir, materialisme (cinta dunia), zikrullah dan akhirat dan berbgi sifat lainnya.

5. Sebagai Wadah Sosial (Public Services).
Sebagai pusat utama ibadah dan pergerakan umat, maka Masjid juga sangat terasa perannya dalam pelayanan sosial (public services). Untuk itu, setiap Masjid selayaknya memiliki data base jama’ahnya dan masyarakat sekitarnya, sehingga diketahui potensi ekonomi yang ada dalam jama’anya dan potensi social welfare yang wajib diperhatikan. Pelayanan sosial tersebut dapat berupa pengumpulan dan penyaluran zakat dan infak, pelayanan kesehatan, beasiswa, pembinan life skill dan sebagainya, kpd kaum Miskin dari kalangan jama’ah Masjid dan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, upaya penanggulangan kebodohan dan kemiskinan dapat berjalan efektif karena akan terjadi efisiensi dan efektifitas yang luar biasa jika dibandingkan lembaga-lembaga sosial selain Masjid.

6. Sebagai Wadah Manajemen Ekonomi Umat.
Masjid juga berfungsi sebagai wadah berkumpulnya para jama’ah yang memiliki kelebihan ilmu dan harta. Sebab itu, Masjid juga harus berfungsi sebagai pusat perencanaan dan manajemen pengembangan ekonomi dan bisnis umat. Jika kita perhatikan Masjid-Masjid besar dan bersejarah di dunia Islam, khususnya, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, berdiri di sekitarnya pasar-pasar raksasa yang menyebabkan ekonomi kawasannya hidup dan berkembang. Demikian pula Masjid-Masjid lainnya seperti Masjid Jami’ Az-Zaitun di Tunisia, Masjid jami’ Umawi di Damaskus Suriah yang berusia lebih dari 1000 tahun.

7. Sebagai Wadah Perajut dan Penguatan Ukhuwwah Islamiyah.
Sebagai tempat ibadah, menuntut ilmu dan berbagai kegiatan lainnya, selayaknyalah Masjid berfungsi sebagai wadah penyemaian dan perawatan ukhuwwah Islamiyah di antara para jama’ahnya dan umat Islam lainnya. Syaratnya, semua jama’ah harus diikat dan tunduk hanya kpd Allah dan Rasul-Nya, dengan mencontoh kehidupan para Sahabat Beliau. Lepaskan semua baju organisasi dan partai, maka Masjid akan berfungsi sebagai wadah ukhuwwah. Kalau tidak, Masjid hanya akan menjadi ajang perebutan kekuasaan kepengurusan dan aktivitasnya. Kalau nuansa tersebut dibiarkan sehingga berkembang dan dominan, tak mustahil bisa terjerumus ke dlm praktek Masjid Dhirar (Masjid kaum munafik yg didirikan utk memecah belah umat Islam).

8. Sebagai Wadah Keselamatan Hari Kiamat dan Jalan Membangun Rumah di Surga.
Masjid bukan hanya berfungsi kebaikan di dunia, tapi juga jalan keselamatan di hari kiamat nanti dan jalan pembangunan rumah kaum Muslimin di syurga. Rasul Saw. bersabda : 

“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari (kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Imam yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam ibadah kpd Allah, seseorang yang hatinya terpaut dengan Masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, bersama dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak berbuat serong wanita terhormat dan cantik, lalu ia menolaknya dan berkata : Tidak, aku takut pada Allah, seseorang yang besedekah lalu ia sembunyikan dan apa yang diinfakkan tangan kanannya tidak diketahui tangan kirinya dan seseorang yang berzikir pada Allah dengan sembunyi, lalu mengucur airmatanya (karena takut pada-Nya).” (HR. Imam Muslim)
Diposting oleh Danny Setiawan 3 komentar
Read More

Senin, 10 Juni 2013

Diposting oleh Danny Setiawan 0 komentar
Read More

Minggu, 02 Juni 2013



Begitu banyak persoalan hidup yang kita hadapi. Apakah itu masalah yang langsung menimpa kita, atau hanya sekedar dampak dari berita dan informasi yang kita baca, dengar dan lihat. Emosi yang meledak-ledak, kekhawatiran dan kekecewaan, bahkan dendam yang menyelimuti hati. Kekangan emosi dan perasaan bertahun-tahun, mengakibatkan jiwa dan mental kita terganggu. Bahkan tanpa disadari fisik mulai sakit dan terganggu.
 
Sementara untuk bercerita kepada orang terde
kat rasanya sulit dilakukan, khawatir perasaan dan emosi yang terpendam justeru menjadi bumerang, karena bukannya mempermudah urusan, tetapi menambah dan menjadi masalah baru. Khawatir banyak orang yang tahu atas masalah yang dihadapinya.


Bila demikian, apa yang harus kita lakukan...? Menulis. Ya menulis sebagai salah satu bentuk pelepasan emosi yang bisa dilakukan tanpa ada beban dan mudah dilakukan. Kesulitannya adalah memulai dan membiasakan diri saja. Lantas bagaimana memulainya?


Mulailah menulis sesuai keinginan anda. Jangan ada beban dan kekhawatiran, tak perlu dipikirkan. Tulis saja semua beban yang selama ini mengganggu pikiran dan perasaan. Tak perlu khawatir dengan teknik dan cara menulis, gaya bahasa, benar dan salah. Karena kita menulis untuk diri sendiri dan melepaskan emosi. Biarkan air mata mengalir, emosi memuncak, kekesalan dan kejengkelan tertumpah. Biarkan semua bentuk keadaan terjadi, jangan dihambat dan dikekang lagi. Biarkan setiap kata dan kalimat mengalir apa adanya, tumpahkan seluruh bentuk emosi yang muncul.


Menangislah.... Marahlah.... Biarkan semua mengalir apa adanya dan tak perlu ditahan.... Ketika terasa berat, cobalah diam sejenak dan tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, kemudian keluarkan melalui mulut. Lakukan itu beberapa kali hingga emosi kembali terkendali. Kemudian menulislah kembali dengan mencurahkan semua rasa yang ada, tanpa ada beban dan kekhawatiran seperti awal menulis.


Setelah berhasil dan selesai menuliskannya, kemudian bacalah kembali semua yang telah kita tuliskan. Silahkan dibuang, di delete, di sobek-sobek, atau disimpan. Dan bila memungkinkan dibaca orang lain, bila tidak keberatan. Agar orang terdekat kita mengerti apa yang kita rasakan saat ini. Kemudian tersenyumlah dan mungkin tertawalah atas apa yang telah kita tuliskan. Semua beban hidup, emosi, dan dendam larut bersama tulisan.
 
Menulis menjadi salah satu metode pelepasan emosi, akan terasa lega bila kita berhasil melakukannya.  Mari kita terus menulis untuk menjaga kesehatan kita dari bentuk stress, emosi, dan keadaan psikis lainnya. So, apa lagi yang harus kita pikirkan? Mari kita jalani hidup hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan kita rencanakan esok lebih baik dari hari ini. “Be The Best with Practice, Best Practice!”
Diposting oleh Danny Setiawan 0 komentar
Read More


Banyak orang memandang profesi Penulis sebagai profesi yang sulit dan jauh dari impian dan harapan mereka. Menjadi Penulis bukanlah karir yang bagus untuk digeluti bahkan diharapkan untuk menopang kehidupannya. Sebagian lagi merasa tidak mungkin menjadi penulis, karena jauh dari bakat dan keinginannya. Namun sebenarnya tidaklah demikian.

Yang diperlukan saat ini adalah bagaimana kita melihat ‘the power of writing’ dari sisi diri kita sendiri.  Pandangan dan pikiran ‘membaca saja malas apalagi menulis’, tidak lagi bisa dipakai untuk alasan sulit menulis. Yang ada adalah kemalasan dan tidak tahu juga tidak mau tahu bahwa menulis sebuah kegiatan yang mudah asyik dan menyenangkan, menulis menyehatkan, menulis karir yang tidak ada pensiun, menulis menjauhi diri kita dari pelupa, menulis membuat kita lebih tahu, menulis membuka dan mewarnai dunia.

Paradigma lama tentang sulitnya menulis harus segera dihapus dan dibuang dari memory kita, otak kita dengan segala kemampuan yang ada masih bisa menyerap dan melakukan menulis dengan baik. Segera instal program menulis dengan baik dan tepat. Metode menulis dengan cara lama harus segera diubah, diganti, dan didelete, agar segala kesulitan itu hilang dan diganti dengan metode yang baru, baik, dan mudah. Apa saja yang harus dilakukan?

Ya, menulis jangan pernah dipikirkan. Karena proses berpikir dilakukan sebelum kita menghadap laptop atau pena dan lembaran kertas. Lakukan proses internalisasi (masuk kedalam sesuatu yang akan kita tulis), sehingga saat menulis, kita tidak lagi memikirkannya, tetapi langsung mengalirkannya menjadi kata-kata atau kalimat yang kita rangkai dengan baik dan indah.

Jangan terganggu dengan salah ketik atau salah tulis dengan mengoreksinya seketika, atau kekhawatiran nyambung  dan tidak nyambung tulisan kita. Abaikan saja sementara hingga selesai ide tulisan kita kita tuliskan. Setelah tulisan kita selesai baru kita lakukan baca ulang dan koreksi dengan baik.  Membaca berulang-ulang tulisan kita dari awal merupakan kegiatan yang tidak produktif, biarkan saja tulisan kita mengalir. Bacalah tulisan kita setelah semua ide tulisan kita selesai. Membaca berulang-ulang membuat gatal untuk koreksi/edit. Cenderung tulisan kita makin sedikit dan ide kita hilang, tidak tuntas menuliskannya. Selain itu menghambat mengalirnya ide dalam bentuk tulisan mengalir dengan baik.

Kadang kita merasa ada tekanan dalam menulis. Menulis harus enjoy dan dinikmati, tanpa beban dan tekanan baik dari luar, apalagi dari dalam. Buat diri kita, pikiran kita dan perasaan kita bebas. Tulislah apa saja yang ingin kita tuliskan tanpa terganggu hal-hal yang bersifat  aturan menulis maupun situasi dan keadaan diluar diri kita. Tidak percaya diri atas tulisan kita atau over confidence, sering kali mengganggu proses menulis kita. Peranan otak kiri sementara diabaikan, lebih kedepankan dan utamakan peranan otak kanan, tanpa beban, menulis dengan merdeka.

The Power of Writing, menjadi alasan kuat kita, mengapa kita harus menulis. Kekuatan yang sangat luar biasa bila kita mengetahuinya. Seperti yang telah disampaikan diatas beberapa kekuatan menulis. Bila kita perhatikan berapa banyak situasi dan keadaan berubah dan diubah oleh sebuah pemikiran yang dituliskan di dalam sebuah buku, atau berita dan informasi di media. Opini yang beredar yang mempengaruhi situasi dan kondisi masyarakat dan bangsa. Bahkan menulis bisa mengangkat dan membunuh ‘karakter’ seseorang. Betapa bahayanya bila kemampuan menulis dimiliki oleh orang-orang atau lembaga yang memiliki kekuatan dan kekuasaan negatif, orang-orang atau lembaga yang  ingin mengubah cara pandang yang negatif, atau ada pemaksaan opini dengan cara menulis. Sungguh itu berbahaya, karena menulis sangat mudah dan halus dalam beropini. Dengan tulisan pemikiran dan infiltrasi sebuah keyakinan dan dogma dengan halus masuk dan mempengaruhi siapa pun. Diperlukan hati yang sehat dan bersih, sehingga tulisan memberikan banyak manfaat, menyehatkan bagi penulisnya dan juga pembacanya. Menulis dengan hati, membuat kita lebih bijak, apa pun jenis tulisan kita.
Diposting oleh Danny Setiawan 0 komentar
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts